Penjahat siber mulai incar sektor ritel

APTFilter AVGNews CERT-LatestNews FSecureNews KasperskyNews Malware McAfeeNews Security News SocialEngineering SophosNews SymantecNews ThreatsActivists ThreatsCybercrime ThreatsEconomic ThreatsStrategic TrendMicroNews Uncategorized VulnerabilitiesAdobe VulnerabilitiesAll VulnerabilitiesApple VulnerabilitiesApplications VulnerabilitiesCisco VulnerabilitiesCrypto VulnerabilitiesDBMS VulnerabilitiesFirmware VulnerabilitiesGoogle VulnerabilitiesHardware VulnerabilitiesLinux VulnerabilitiesMicrosoft VulnerabilitiesMozilla VulnerabilitiesNetwork VulnerabilitiesOS VulnerabilitiesVMWare VulnerabilitiesVOIP

Merdeka.com – Berdasarkan dari hasil riset NTT 2016 Global Threat Intelligence Report, perusahaan-perusahaan ritel ternyata mengalami hampir tiga kali lipat hantaman penjahat siber. Keadaan ini, mengubah peta ‘buruan’ para penjahat siber. Bagaimana tidak, di tahun lalu, mereka biasanya mengincar sektor keuangan tradisional, malah kini berpindah ke perusahaan ritel. Cyberattacks pada perusahaan keuangan menurun drastis hingga ke posisi 14 tahun ini.

Riset tahunan NTT 2016 Global Threat Intelligence Report merangkum ancaman keamanan yang terekam selama tahun 2015 dari 8,000 klien dari perusahaan keamanan NTT Group termasuk Dimension Data, Solutionary, NTT Com Security, NTT R&D, dan NTT Innovation Institute (NTTi3). Data tahun ini berdasarkan pada 3.5 triliun security logs dan 6.2 milyar attack. Data juga dikumpulkan dari 24 pusat operasional keamanan dan tujuh pusat penelitian dan pengembangan dari NTT Group.

Sektor ritel menduduki posisi teratas daftar serangan keamanan cyber dari semua sektor dengan prosentase dibawah 11 persen dalam laporan tahun ini, menggantikan posisi sektor keuangan dari urutan pertama.

“Sektor ritel dan keuangan memproses informasi pribadi dan kartu kredit dalam jumlah yang sangat besar. Mendapatkan akses ke perusahaan-perusahaan ini memungkinkan penjahat dunia maya untuk menguangkan data sensitif seperti rincian kartu kredit di black market, di mana hal ini membuktikan bahwa penjahat dunia maya termotivasi oleh imbalan dari kejahatan keuangan,” jelas Hendra Lesmana, CEO Dimension Data Indonesia, dalam keterangannya, Selasa (17/05).

Hendra menambahkan, perusahaan-perusahaan ritel semakin menjadi target karena mereka memproses informasi pribadi dalam jumlah banyak, termasuk data kartu kredit, ke berbagai lingkungan yang tersebar dengan banyak perangkat endpoints dan point-of-service. Lingkungan yang beragam tersebut menyebabkan sulit untuk dilindungi. [ega]

http://www.merdeka.com/teknologi/penjahat-siber-mulai-incar-sektor-ritel.html